Insos Kofiau Dan Gairah Lagu Populer Papua Yang Mencengangkan

  • Whatsapp
Hendrik Mambrasar dan pendukung insos kofiau (foto crts blog napi pantera)

Oleh Falantino E. Latupapua

Bermula dari Davi, putra bungsu saya yang masih cadel dan lucu menyenandungkan lagu ini beberapa minggu terakhir, saya jadi terbiasa dan ikut menikmati lagu ini. Insos Kofiau, salah satu lagu populer Papua yang diciptakan oleh Hendrik Mambrasar ini telah beredar di pelantar (platform) digital sejak bulan September dan telah didaur ulang oleh beberapa musisi lain dengan jumlah penonton (Youtube) di atas tiga juta. Di bawah ini saya cukilkan lirik lagu tersebut:

Masuk, masuk minang Insos Kofiau
Bayar, bayar dengan piring gantung
Ikat kasi tanda dengan adat
Tong su masuk masuk minang dia

So bapak mantu, ipar-ipar
Buka pintu untuk saya
Sedikit harta yang kami hantar
Sebagai tanda cinta kasih

Lirik lagu ini diterakan pada musik yang rancak dan ceria. Pada beberapa versi reproduksi (cover), beberapa musisi menambahkan unsur techno, reggae, bahkan sentuhan melodi khas Sunda. Saya memang bukan penggemar tipe musik seperti ini. Akan tetapi, saya bisa menikmati dan menangkap serta mencerna esensi fatik-nya: Setiap mendengarkan ulang selalu merasa senang dan ingin bergoyang.

Bagi penikmat awam, sebagaimana konsumen lagu Indonesia Timur pada umumnya, lirik lagu sering hanya sebagai unsur komplementer dari sebuah lagu. Dalam perspektif komunikasi, unsur fatik-lah yang menjadi determinan kunci suatu lagu bisa diterima oleh masyarakat: Musik yang bikin orang bergembira, berjoget, dan tertawa bahagia. Jika syarat itu sudah dipenuhi, isi dan makna liriknya sering sudah tidak terlalu dipusingkan. Justru letak keindahan lagu ini terlihat pada cara penulisnya meletakkan tema budaya yang unik dan merangsang ketertarikan untuk mencari tahu unit-unit makna yang menyebabkan lirik lagu tersebut menjadi kuat, mahal, dan membelajarkan.
Lagu ini secara jelas menggunakan Bahasa Melayu Papua (BMP) untuk mengartikulasikan tema budaya yang indah, meskipun tidak baru: Cinta dan pernikahan. Lagu ini bercerita dengan sudut pandang laki-laki yang sedang kasmaran dan meminang insos (panggilan kepada perempuan muda yang belum menikah dalam BMP) Kofiau dengan mas kawin piring gantung sebagai tanda ikatan cinta kasih, penerimaan, serta keseriusan. Latar tempat Kofiau adalah sebuah pulau di Kabupaten Raja Ampat nan mashyur di Provinsi Papua Barat. Sedangkan piring gantung adalah piring tua/antik dari porselen asal Cina yang biasanya digunakan sebagai mas kawin untuk meminang perempuan Papua. Pada bagian reffrein si laki-laki dengan santai meminta bapa mantu (mertua) dan ipar-ipar untuk membuka pintu sebagai tanda menerima dirinya sebagai bagian dari keluarga mereka, sekaligus menerima mas kawin yang ia bawa.

Secara ringkas dan sederhana, lirik lagu ini telah berhasil mengartikulasikan sub ritual lamaran dalam ritual perkawinan adat di Papua, yang, sekali lagi, bukan tema yang baru, namun menawarkan “godaan” bagi mereka yang mendengarkan untuk mencari tahu dan menikmati belantara budaya Papua yang penuh eksotisme. Lirik lagu ini seakan mematahkan pakem lagu pop daerah yang harus menjiplak kisah cinta remaja yang “berdarah-darah” dari blantika musik populer Indonesia. Ia menyodorkan tema lokal, sederhana, ringkas, terasa asing namun memikat. Dengan sendirinya, mereka meniupkan pesan bahwa lagu populer pada tataran lokal tidak perlu melakukan mimikri ke tema-tema yang klise, apalagi yang asing, namun bisa menjadi sangat kaya dalam keaslian. Saya kira, inilah yang sering dilupakan banyak seniman yang kehilangan jati diri dan terjebak dalam imitasi dan plagiasi yang kebarat-baratan dalam arti dan cakupan yang luas.

Sebagai pecinta sastra dan budaya, lagu ini memperkuat keyakinan bahwa Papua, sebagaimana daerah-daerah lain di Indonesia Timur, adalah ladang subur yang menyediakan kekayaan melimpah ruah bagi mereka yang tertarik untuk memelajari dan meneliti manusia dan kebudayaannya, termasuk dalam lirik lagu populer. Kekayaan itu kadang tidak disadari oleh pemiliknya. Mereka baru akan terperangah ketika pengetahuan yang dianggap sudah jadi bagian diri mereka dibicarakan dan diagungkan oleh orang lain dengan cara yang juga bisa mereka lakukan tetapi tak selalu sungguh-sungguh diupayakan.

Bagi saya, lagu ini menjadi satu di antara banyak implikasi yang dapat kita telusuri tentang betapa musik populer Papua telah menjadi sangat bergairah, produktif, serta lincah berpromosi dalam ritme yang mencengangkan. Jika Anda rajin berselancar di media sosial, Anda tentu akan mengamini bahwa aksi pengarusutamaan narasi-narasi ke-Papua-an tengah bergejolak. Setelah kemunculan Dorkas Waroy, Nowela, Mace Purba, tampaknya anak-anak muda Papua yang berprofesi sebagai seniman telah menunjukkan semangat dan militansi mereka di media sosial dan pelantar digital untuk turut berperan dalam “peperangan” gagasan dan “menjual” apa yang indah, apa yang lokal, apa yang dekat, dan apa yang mereka cintai dan hayati untuk membuat khalayak makin mengenal dan mencintai mereka.

Kelihatannya musisi-musisi Papua sudah tiba pada pemahaman yang paripurna tentang “menjual diri” (baca: Menjual potensi kesenimanan melalui kekayaan budaya dalam karya) dalam produksi musik populer dengan lirik yang sederhana tetapi dalam; singkat tetapi berjalin berkelindan. Di saat daerah-daerah lain sibuk bicara tentang teori, ekosistem musik, DNA, kota musik, yang bahkan mulai kehilangan kiblat dalam disorientasi akut; musisi Papua menunjukkan soliditas dalam menularkan pesan tentang cara membuat sesuatu yang sederhana menjadi disukai, dicari, ditonton, dan dibeli. Mereka sudah saling menjangkiti dengan semangat menghubungkan subjek dengan subjek pada era mutakhir, yang secara mendasar bukan lagi tentang menghasilkan sesuatu tetapi tentang mengusahakan suatu produk agar mencapai daya jangkau luas.

Akhirnya, di tengah ingar bingar pertempuran narasi politik tentang Papua, kegairahan yang ditularkan oleh lagu-lagu populer Papua bisa menjadi semacam oase di tengah “keterasingan” dua arah. Melalui lagu ini, tentu siapa saja dapat mengenal dan menelusuri Papua yang damai, indah, eksotis, dan (tentu saja) kaya dalam perspektif apa saja. Pada sisi itulah, kita bisa memahami bahwa kebudayaan adalah pintu masuk yang paling mudah dimanfaatkan untuk bernegosiasi, menghidupkan kemanusiaan, membuat manusia menyadari bahwa ada manusia lain untuk diakui, dihormati, dan dicintai. Semoga Papua yang indah, unik, dan ceria, sebagaimana yang dinyanyikan oleh lelaki yang memuja Insos Kofiau dapat digemakan sebagai pesan cinta terhadap bumi Indonesia, sebagai suara untuk saling menerima, bukan saling menjegal dan saling mengeluarkan.

Penulis adalah seniman dan dosen FKIP Universitas Pattimura, Ambon

Pos terkait