Supaya Tidak Menjadi Kafir Kesenian

  • Whatsapp

Catatan Rudi Fofid-Tual

Saya berada di sebuah gedung serba guna, suatu waktu. Sengaja tidak saya tulis secara jelas waktu dan tempat.  Ada sebuah seremoni yang melibatkan sekitar 100 orang. Di ujung acara, hadirlah suguhan musik.

Satu kelompok band lima personil naik pentas. Mereka memperkenalkan diri sebagai band baru. Pentas itu pentas perdana.

Penampilan mereka tidak buruk. Warga bertepuk tangan tulus. Band melantunkan empat lagu berturut-turut. Sampai di sini, semua baik-baik saja.

Sebelum menyanyikan lagu kelima, sang vokalis memberi sedikit pengantar.

“Berikut ini lagu terakhir dari kami. Lagu ini hasil karya pembina dan pendiri band kami. Kakak Janus! (bukan nama sebenarnya)” Ucap sang vokalis.

Semua orang memberi tepuk tangan. Kakak Janus berdiri. Ia bungkuk badan ke arah penonton sambil tersipu. Saya juga tepuk tangan dan kagum.

Musik intro mengalir. Lirik pembuka langsung menggebrak. Tepuk tangan membahana.

Di malam yang hening
Kusujud di hadapan-Mu
Melepas s’gala beban yang berat,
Menyerahkan s’gala hidupku ini

Lagu terus mengalir ke bagian kedua.

Kusembah Kau, Tuhan,
Ajarlah aku firman-Mu
Tunjukkanlah jalan-Mu, Tuhan
Agar hamba-Mu tidak tersesat

Lagu pun mendaki sampai ke nada tertinggi pada bagian refrein.

Jadikan aku pelangi-Mu
yang menghiasi kehidupan
Tanpa Engkau hidup ini tiada arti, O Tuhan
Jadikan aku lilin kecil
yang memberi seberkas sinar
Agar s’lalu menerangi kehidupan ini
Amin

Ketika vokalis mengulang bagian refrein, saya sudah berdiri di belakang pada posisi lurus dengan dia. Matanya memandang ke arah saya, mungkin karena saya satu-satunya orang yang berdiri dan bergerak. Saya tahu, sang vokalis pasti terkejut, terganggu, terpukul, atau apalah. Sebab, saya ikut menyanyikan “lagu baru karya pembina band mereka”.

“Jadikan aku pelangi-Mu
yang menghiasi kehidupan
Tanpa Engkau hidup ini tiada arti, O Tuhan
Jadikan aku lilin kecil
yang memberi seberkas sinar
Agar s’lalu menerangi kehidupan ini
Amin”

Saya tahu, ada satu dua orang di kiri kanan saya, ikut memperhatikan saya. Mereka heran karena saya bisa menyanyikan “lagu baru” tersebut.

Ketika acara bubar, sang vokalis datang kepada saya. Dia meminta maaf, dan menjelaskan bahwa ucapan dia di panggung soal “lagu baru” hanya sekadar memberi kesan kepada para pendengar.

“Jadi, itu inisiatif saya, bukan inisiatif Kakak Janus,” kata sang vokalis, sambil berulang-ulang minta maaf.

Saya hanya berkata pendek kepadanya. Kalau mau minta maaf, jangan minta maaf kepada saya, melainkan minta maaf kepada semua penonton, dan terutama yang empunya lagu.

Lagu terakhir yang dinyanyikan tadi judulnya “Sekeping Doa” karya komponis Ambon Arce Suripet. Lagu itu ditulis Arce untuk lagu wajib lomba vokal group yang diselenggarakan AMGPM di Passo, tahun 1980-an.

Saya menemukan lagu tersebut dari gitaris Izac Jamlean di Ambon. Vokal group PMKRI Cabang Ambon dengan vokalis antara lain Nona Tamnge berlatih lagu tersebut. Sebab itulah, saya ingat persis liriknya dan penulisnya.

Dalam kesenian, hal-hal begini paling tidak elok. Dunia ini terlalu kecil dan tidak ada tempat bersembunyi bagi para pencuri karya. Mengaku karya orang lain sebagai karya sendiri, adalah bunuh diri.

Kasus “pelangi” ini mengingatkan saya pada sebuah puisi. Suatu hari, saya menjadi salah satu kurator buku puisi yang melibatkan ribuan puisi dari seluruh Indonesia. Ada sebuah puisi yang lariknya begini:

“Berapa jauh seorang perempuan harus berjalan
Sebelum akhirnya dia disebut manusia
…………………………………………………….
Berapa lama sebuah gunung harus menjulang

Sebelum akhirnya tenggelam ke dasar laut”

Kami hampir terpesona pada puisi ini, tetapi saya kemudian mengingat sebuah lagu yang ditulis Bob Dylan tahun 1962, Blowing in the wind”.

“How many roads must a man walk down
Before you call him a man?
……………………….
Yes, and how many years can a mountain exist
Before it is washed to the sea?”

Puisi itu kemudian kami nyatakan mengandung unsur plagiat. Bayangkan, sebuah lagu ditulis nun jauh di New York tahun 1962, bisa dikutip satu orang muda di tempat dan waktu berbeda, tetapi kami tangkap. Artinya, tiada tempat bagi para pencuri karya seni di muka Bumi.

Lagu “Blowing in the wind” sendiri, menurut Bob Dylon diadaptasi dari lagu Negro Spiritual. Liriknya memang ditulis Bob tetapi melodinya dia ambil dari lagu “No More Auction Block”, yang juga dinyanyikan Bob (bisa dilihat di youtube https://www.youtube.com/watch?v=GZVRz6TyPX4).

“Blowin’ In The Wind” has always been a spiritual. I took it off a song, I don’t know if you ever heard, called ‘No More Auction Block’. That’s a spiritual. Blowin’ In The Wind follows the same feeling….” Demikian pengakuan Bob Dylan kepada wartawan Marc Rowland yang mewawancarainya tahun 1978.

Di sekitar kita, terlalu banyak bibit-bibit plagiat.  Lomba-lomba karya tulis yang naskahnya dikerjakan di rumah, cukup rawan untuk diintervensi orang dewasa karena ambisi juara.   Sebab itu, naskah anak-anak SD, tidak sedikit yang mengalami pengeditan luar biasa oleh orang dewasa sehingga karya anak rasa dewasa.  Belum lagi kemalasan kreatif membuat penyakit salin-tempel menyebar ke mana-mana.

Jadi, jalan terbaik bagi para seniman belia adalah berkarya saja dengan segenap keaslian, sejujur-jujurnya kepada diri sendiri dan kepada publik. Tidak usah paksa diri agar terlihat keren, terkenal, banyak penggemar, dipuja. Biasa saja. Berkarya dalam sunyi, itu tidak apa-apa, asalkan asli dan tak tertirukan.

Kalau kita membiasakan diri berada dalam iklim plagiarisme, boleh jadi kita ada di panggung kesenian, tetapi berlumpur plagiat. Semoga angkatan muda kita dibebaskan dari segala bentuk ciri kafir kesenian, yakni kesenian sebagai medium untuk memuaskan diri sendiri.

Selamat berkarya sejujur-jujurnya, seasli-aslinya!

Tanah Kei, 5 Mei 2021

Penulis adalah Redaktur Pelaksana Media Berita Maluku Post

Pos terkait