Komedian Om Koko Dan Pria Muslim Berkalung Salib

  • Whatsapp

Catatan Rudi Fofid-Ambon

Julius Bernhard Makatita alias Om Koko adalah komedian paling popular di Maluku.  Bertahun-tahun, ia melakoni hidup di jalur kesenian.  Ia bermain musik dalam grup musik hawaiian,  ia bisa menjadi vokalis, bisa menjadi MC, dan tentu saja komedian. Terakhir  sekali, diajak Glenn Fredly untuk penampilan sesaat di dalam film Cahaya Dari Timur: Beta Maluku.

Pada masa jaya-jayanya siaran radio tanpa televisi, Om Koko sudah tampil di RRI Ambon dengan gurauan kritis dan kocak, menertawakan ketimbangan sosial dalam acara Onggo dan Dullah.  Om Koko memerankan tokoh Dullah, serangkan Onggo dilakoni Polisi Kelanit bergantian dengan penyiar RRI Ade Latuihamallo.

Meskipun sangat popular, tidak banyak tulisan tentang kiprah Om Koko di dunia hiburan.  Sampai kematian beberapa tahun silam pun tidak terekspos secara cukup.  Padahal kontribusinya untuk Maluku patut dikenang.   Misalnya saja, dalam Koko’s Group bersama Om Nan dan Tanta Aga, publik bisa melihat bagaimana kolaborasi seniman Salam-Sarani Ambon di atas panggung, walau Maluku pernah dilanda konflik sosial yang membuat banyak warga tersekat.

Sebelum berpulang, Om Koko pernah berkisah tentang pengalamannya setelah badai konflik berlalu.  Ceritanya, seusai pensiun TNI, ia membeli sebuah mobil angkot.  Hitung-hitung, untuk menambah uang belanja ikan dan sayur di rumah, kata Om Koko.

“Hidup sebagai seniman itu, tidak tentu.  Kita tidak tahu dibayar berapa.  Sering dibayar dengan nasi kotak, ada kalahnya dengan Rp50 ribu, dan banyak  kali dengan danke. Jadi beta seng harap apa-apa dari pentas kesenian.  Makanya, mobil angkot inilah yang menjadi andalan,” kata Om Koko.

Seorang pria Wayame keturunan Buton dipercaya Om Koko sebagai pengemudi  angkot.  Sebut saja nama pria itu, La Bunga.  Semua berlangsung sesuai harapan.  Relasi Om Koko dan La Bunga, lebih dari sekadar majikan dan buruh.  Om Koko menjadi ayah sedangkan La Bunga  menjadi anak.

Peristiwa 1999 membuat Om Koko gundah.  Ia putus hubungan dengan La Bunga.  Tidak ada komunikasi sama sekali.  Om Koko dan istri tidak mau berspekulasi.  Mereka hanya berharap semua baik-baik saja.

Ternyata, tahun 1999,  2000, 2001 berlalu, tidak ada informasi sama sekali La Bunga masih hidup atau sudah meninggal.  Lantas mobil angkot itu, masih ada  atau sudah terbakar, tidak ada informasi pula.

“Beta dengan maitua sudah relakan mobil itu hancur, hanya saja, di manakah La Bunga?  Dia sudah bekerja dengan beta, dan sudah menjadi anak yang penurut,” kata Om Koko kepada saya.

Pertengahan  2002 di Tapal Kuda, tempat kediaman Om Koko, sebuah mobil angkot datang langsung parkir di depan rumah Om Koko.  Om Koko langsung teringat kembali mobil angkotnya yang sudah dinyatakan hilang dua tahun silam.

Seorang pria turun dari angkot.  Om Koko menyelidiki wajah pria itu.

“La Bunga!” Seru Om Koko.

“Om Koko!” Balas La Bunga.

Kedua pria itu saling peluk dan menangis dalam keharuan yang dalam.

“Beta minta maaf, waktu tahun 1999 itu, beta antar mama dan adik-adik pulang mengungsi di Buton.  Sampai di sana, semua keluarga larang beta kembali ke Ambon.  Terpaksa beta tinggal saja di sana sebagai pengungsi,” jelas La Bunga.

“Sekarang keadaan sudah makin baik, beta beranikan diri pulang ke Ambon.  Beta ingat Om Koko dan tante di sini,  Beta ingat mobil yang ada di beta punya tangan,  jadi beta musti bale ke Ambon,” jelas La Bunga lagi.

Sebelum mengantar ibu dan adik-adiknya ke Buton, La Bunga ternyata menyimpan mobil angkot tersebut di dalam sebuah gudang milik seorang pengusaha Ambon keturunan Tionghoa.  Mobil masih di tempatnya ketika La Bunga kembali ke Wayame.

“Lalu bagaimana sampe ale bisa datang ke sini?  Ini keadaan belum baik betul,  mengapa paksa diri datang ke sini? Seng tunggu beso-beso jua?” ujar Om Koko.

La Bunga mengeluarkan salib besi putih di dada.  Ia perlihatkan salib itu kepada Om Koko.

“Beta beli kalung salib besi putih ini, lalu beta pakai naik feri Poka-Galala.  Alhamdulillah tidak ada hambatan,” jelas La Bunga.

Mendengar perjuangan La Bunga mengantar kembali mobil angkot ke rumah Om Koko dari Wayame ke Tapal Kuda, Om Koko dan istri larut dalam keharuan.

“Bukan soal mobil, tetapi tanggungjawab, kesetiaan, dan keberanian melintas batas.  Itu yang bikin beta bangga pada La Bunga.  Bayangkan, seorang pria Muslim dengan salib di dada hanya karena tanggungjawab,” kata Om Koko.

(In memoriam, Om Koko.  Salam untuk La Bunga).

Ambon, 6 Juli 2020

Pos terkait