“Beta Chairil Anwar Pattiradjawane”

  • Whatsapp

Catatan Rudi Fofid- Ambon

Saya jatuh cinta pada Chairil Anwar pada jumpa pertama. Waktu itu, tahun 1975 di tepi Selat Rosenberg, Kepulauan Kei, Maluku. Bapak Guru Kailey mewajibkan setiap siswa kelas lima SD Nasional Katolik Mathias II Tual mendeklamasikan puisi “Aku” karya Chairil Anwar. Saya salah satunya. Itulah pertama kali, saya tahu bahwa di muka Bumi ini ada pujangga bernama Chairil Anwar.

Puisi “Aku” tertanam begitu kuat dalam diriku. Setiap larik penuh diksi dan frasa yang kukuh. “Kalau sampai waktuku”, sebuah pembukaan yang langsung menghentak. Chairil menggunakan logika “jika-maka” pada bagian ini.
“Kalau (jika) sampai waktuku (maka) kumau tak seorang kan merayu”.

Ketika orang sedang ternganga oleh hentak pesona pembuka, Chairil langsung melepas panah, menohok, menonjok, menikam, menghujam: “Tidak juga kau!” Astaga. Ego nian. Pantaslah judul puisinya “Aku”.

Manakala pembaca merasakan serangan si “aku” oleh larik “tidak juga kau”, saat itu Chairil langsung beri ultimatum. “Tak perlu sedu-sedan”. Si aku tidak mau bersedu-sedan, dan mengajak pembaca pun tidak usah sedu-sedan: Jangan baper.

Siapakah si aku yang langsung unjuk dada, menghunus ancaman, dan memberi peringatan. Memangnya, kau siapa, Chairil?

“Aku ini binatang jalang!”

Oh, mama! Anak muda macam apakah yang membuat frasa setangguh ini? Mengapa tidak mengagungkan diri yang aku, yang ego itu secara lebih mulia? Misalnya: “Aku ini manusia setengah dewa!” Saya jatuh cinta di sini dan sungguh percaya, frasa “Aku ini binatang jalang” akan tetap menjadi kekal abadi, saking teguhnya.

Chairil masih pertegas kebinatangan dan kejalangan dengan tambahan penjelas. Binatang jalang bukan sembarang binatang jalang, yang berjalan bergerombol. Si aku adalah binatang jalang “yang terbuang dari kawanan, gerombolannya. “Aku ini binatang jalang, dari kumpulannya terbuang”.

Bagian ini tidak sekadar kuat pada rima tengah dan rima akhir (binatang, jalang, kumpulan, terbuang), tetapi sungguh membawa imajinasi pembaca pada situasi liar dan ganas di belantara rimba raya. Mungkin situasi sosial politik yang berganti dari supremasi Belanda ke pendudukan Jepang, telah menjadi rahim imajinasi bagi Chairil.

Bayangkan, kawanan hewan liar yang berjalan bergerombol di dalam rimba. Oleh satu situasi berat misalnya bencana alam, iklim buruk, atau serbuan para pemburu. Kawanan binatang liar itu berlari kocar-kacir. Nah, si aku binatang jalang adalah satu dari kawanan itu. Dia terpisah, tercerai, terbuang dari rombongan, sehingga berjalan sendiri.

Seseorang yang terbuang selalu merasa terasing, payah, hancur, terpuruk, putus asa, sedu-sedan. Tetapi, si aku binatang jalang yang terbuang dari kumpulan itu, tidak demikian. Dia tidak peduli, tidak sedu-sedan. Justru dalam kejalangan itu dia menjadi lebih kuat. Lihat saja larik berikut.

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Bayangkan lagi hewan buruan yang tertembak peluru, tombak, atau panah beracun (bisa). Si aku binatang jalang ternyata bukan binatang buruan yang langsung terguling, takluk, dan berserah leher kepada pemburu. Ia justru tetap meradang, bahkan menerjang. Chairil menggunakan diksi “meradang”, sebuah level emosi di atas “amarah”. Ini gila. Chairil sungguh gila-gilaan, dan semakin kambuh pada larik-larik selanjutnya.

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih-perih

Di rimba raya, seekor binatang liar yang terluka, tidak akan terpincang-pincang mencari dokter hewan atau puskesmas. Binatang liar akan menjilat luka sebagai respon natural terhadap luka itu. Chairil tidak melukiskan perhentian itu. Misalnya, “dan aku berhenti sejenak menjilat lukaku sampai sembuh”. Tidak ada penggambaran demikian. Justru luka dan bisa itu dia bawa berlari sampai sembuh sendiri. Inilah kesempurnaan binatang jalang.

Chairil mencapai klimaks penegasan pada dua baris akhir. Jika pada bagian ada kata “tak” dalam larik “kumau tak seorang kan merayu”, dan juga ada “tak”pada larik “tak perlu sedu-sedan itu”. Maka pada bagian akhir, “tak-tak” tersebut semakin dipertebal dengan kata “lebih tidak”.

Dan aku lebih tidak peduli

Sungguh, si aku yang tak mau dirayu, si aku yang tak perlu bersedu-sedan, si aku yang ternyata binatang jalang, si aku yang terbuang dan terluka, tetapi terus berlari sampai sembuh sendiri. Si aku itu ternyata mempunyai visi imajinatif yang jauh ke depan, sebagaimana larik pamungkas yang memukau: “Aku mau hidup seribu tahun lagi”. Sungguh sensasional.

Siapakah “aku” dalam puisi “Aku”? Juga, siapakah “kau” dalam puisi ini? Boleh jadi “aku” adalah Indonesia dan “kau” dalam “tidak juga kau”, adalah Belanda atau Jepang. “Aku” adalah cetusan semangat pemberontakan untuk menjadi bangsa merdeka. Boleh jadi.

secara pribadi, saya merasa Chairil Anwar menulis “Aku” pada tahun 1999 di Ambon. Aku lirik dalam “aku” adalah orang Maluku yang pernah baku hantam. Lantas “aku Maluku” kemudian menyatakan kepada “kau provokator” bahwa “katong seng mau dirayu lae untuk bakalae”.

BETA PATTIRADJAWANE

Tahun 1978 di kaki Bukit Borero, Labuha, Halmahera Selatan, Maluku Utara. Giliran Guru Anas Tubaka memperkenalkan “Beta Pattiradjawane” kepada saya dan kawan-kawan di kelas 2 SMP. Ini sensasi lain. Si aku ternyata menjadi beta dalam “Cerita Buat Dien Tamaela”.

Lantaran tahun 1975 sampai tahun 1978 tidak ada perpustakaan sekolah atau perpustakaan daerah, juga belum ada google, maka saya baru membaca riwayat Chairil tahun 1980 saat belajar di Ambon, ibukota Provinsi Maluku.
Dari sinilah, barulah perkenalan saya dengam Chairil semakin bertambah.

Saya punya dua narasumber Maluku yang pernah bersua dengan Chairil Anwar yaitu Des Alwi dan Dee Tamaela. Des Alwi adalah tokoh masyarakat Banda, pernah menjadi Duta Besar RI di Kuala Lumpur saat ketegangan Indonesia-Malaya. Des Alwi adalah anak angkat Sutan Sjarir saat pengasingan di Banda. Sebab itu, tahun 1942 Des Alwi ke Jakarta, tinggal sekamar bahkan seranjang dengan Chairil Anwar di rumah Sutan Sjahrir. Sedangkan Dee Tamaela adalah adik kandung Dien Tamaela. Dee adalah mahasiswa angkatan pertama di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Ia pernah menjabat Ketua Cabang GMKI Batavia dan Ketua Pengurus Pusat GMKI tahun 1953-1954. Dee dan Dien adalah dua putri pasangan Dokter Lodwijk Tamaela dan Jacomina Pattiradjawane.

Des Alwi berkisah, Chairil Anwar adalah seorang kutu buku yang fasih Bahasa Inggris dan Belanda. Rumah Sutan Sjahrir dan Dokter Tamaela tidak jauh sehingga Chairil sering datang ke bertemu Dien Tamaela. Des Alwi sering menemani, dan ikut mendengar semprotan-semprotan dari mulut Jacomina Pattiradjawane.

“Beta bilang ale, Nini (nama kecil Chairil Anwar). Dien punya marga Tamaela seperti ayahnya tetapi beta Pattiradjawane. Tamaela itu lembut, tetapi beta keras. Beta sudah bilang, jangan dekati Dien. Ale jangan bikin beta marah!” Begitu antara lain Des Alwi meniru ucapan ibunda Dien Tamaela.

Des Alwi menyebutkan, walau Chairil dan Dien terlibat asmara terlarang, Chairil tidak peduli. Pada suatu kesempatan, Dien menjalani operasi usus buntu di Yogyakarta. Chairil mengajak Des Alwi naik kereta ke Yogyakarta untuk jenguk Dien di rumah sakit.

Menurut Des Alwi, saat malam-malam sebelum tidur, dia sering bercerita tentang “barang-barang alus” (makhluk gaib) di Maluku, dengan latar belakang Banda dan pala. Sebab itu, tidaklah heran, dalam puisi “Cerita Buat Dien Tamaela”, bisa ditemukan tiga kali muncul kata “pala”.

Beta Pattiradjawane, menjaga hutan pala
Pohon pala, badan perawan jadi
Beta bikin pala mati, gadis kaku

Des menambahkan, kata-kata dalam puisi “Cerita Buat Dien Tamaela” seperti “beta”, “Pattiradjawane”, “datuk”, “pala”, “sampan”, “laut”, “pantai”, semua itu adalah upaya Chairil untuk penggambaran ke-Maluku-an.

Sementara itu, Dee Tamaela berkisah, dirinya hanya sekali saja bertemu Chairil Anwar di sebuah toko buku di Jakarta. Waktu itu, Dee bersama seorang kawan sedang melihat buku-buku di rak. Tiba-tiba kawan Dee itu mengajak Dee untuk berkenalan dengan seseorang yang muncul secara tiba-tiba.

“Dee, perkenalkan. Ini Nini, Chairil Anwar, yang menulis puisi untuk kakakmu, Dien Tamaela,” kata kawan Dee.

Dee menyalami Chairil dan menaruh hormat, tetapi sekaligus menyimpan kesan kelam. “Chairil itu penampilan paling hancur. Rambut dan terutama mata itu, seperti jahat,” kata Dee kepada saya di Apartemen Menteng, Jakarta, dalam sebuah wawancara untuk Okezone.

Meskipun Dee menyebut “seperti jahat”, sampai akhir hayatnya, Dee menyimpan koleksi puisi Cerita Buat Dien Tamaela dalam Bahasa Indonesia, Inggris, Belanda, Jerman, Prancis, dan Rusia, di dalam satu bundel.

Nah, apa pentingnya seorang Dien Tamaela bagi Indonesia? Kalau namanya sekadar ada dalam judul puisi Chairil Anwar, dia boleh kita lupakan saja. Akan tetapi, Dien adalah seorang musisi. Ia bermain piano di studi radio (sekarang RRI) tahun 1946. Adiknya Dee dkk adalah mahasiswa Maluku di Jakarta yang bernyanyi sekali sepekan di radio. Mereka menyanyikan lagu-lagu Maluku dan lagu-lagu perjuangan ditambah sedikit siaran kata.

“Kami adalah pemuda-pemuda Maluku di Jakarta. Kami mendukung sepenuhnya proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945. Sekali merdeka tetap merdeka,” begitulah suara Buce Tahalele, rekan Dien dan Dee.

Dampak dari siaran ini adalah orang Jakarta tidak lagi melakukan serangan fisik ke pemukiman orang Maluku dan ujaran kebencian kepada warga Maluku. Serangan itu sudah dimulai 18 Agustus 1945, karena orang Maluku diidentikkan dengan KNIL, kaki-tangan Belanda, loyal kepada Belanda, dan tidak dukung proklamasi. Dien, Dee, Buce, dkk membuat proklamasi melalui musik, bahwa orang Maluku juga nasionalis dan ikut berjuang.

Chairil Anwar, Des Alwi, Dien Tamaela, Jacomina Pattiradjawane, Maluku, adalah sebuah tarikan nafas dalam kehidupan nyata, maupun dalam nafas puisi.

Secara pribadi, saya merasa, dengan puisi “Aku” dan “Cerita Buat Dien Tamaela”, Chairil telah menjadi guru imajiner saya selama bertahun-tahun. Sebab itu, saya berbahagia puisi saya “Persetujuan Dengan Chairil” dalam projek buku Inspirasi Pujangga Indonesia¬† (dilanjutkan oleh Taman Inspirasi Sastra Indonesia), dengan hastag #Terinspirasi_Chairil_Anwar” dipilih oleh tim kurator sebagai “pemenang” pertama.

Senang bahwa ada hadiah uang tunai kepada “pemenang”. Saya merasakan, hadiah uang tunai ini sangat berjuta-juta dan tidak bisa habis dibelanjakan sepanjang umur puisi. Maka untuk menghormati guru imajiner saya sang binatang jalang, menghormati pujangga pelopor angkatan 45, dan menghormati “Chairil Anwar sebagai pahlawan nasional”, saya akhiri catatan kecil ini dengan dua puisi saya yakni “Persetujuan Dengan Chairil” dan

PERSETUJUAN DENGAN CHAIRIL

binatang jalang bukan kau saja
berjuta kami juga bawa lari luka
kami serbu rimba-rimba liar
hilang di sunyi paling sial

kami sendiri jilat “luka-bisa”
kami sendiri jadi dukun desa
ludah kami adalah penawar
lidah kami jadi perawat

kami bisa sembuh dari “luka-bisa”
sebab lidah kami masih berbusa
sebab ludah kami juga berbisa
maka mari, bung, kita bikin perjanjian

republik ini bukan cuma keringat
republik ini bukan cuma air mata
republik ini bukan cuma darah
tetapi republik ini juga dahak

maka barang siapa jadi pujangga
dia harus cerewet sepanjang usia
sampai dahaknya bergantang-gantang
asal saja, “tak perlu sedu-sedan”

tanah kei, 12 mei 2021

CERITA BUAT CHAIRIL ANWAR

mari chairil anwar pattiradjawane
kupegang tanganmu naik sampan datuk
lalu dayung sampai ke Kariu dekat Pelauw
lihat orang-orang saudara
booi, aboru, kariu, hualoy
cakalele di pantai
tempat yang kau sebut
ada ganggang menari

mari nini, nyong nini
kita mendayung lagi
ke gugusan bandaneira
melihat senyum pala
letusan gunung puisi
dan benteng-benteng
yang pernah bikin beta marah
lihat, karibmu menunggu
senyum dien tamaela
sambil berujar tete manis

chairil anwar pattiradjawane
pamanmu pernah minum di sumur ini
menjadikannya abadi
dalam sejarah Tanah Pala
kau bisa tapaki punggung ombak
sampai ke pulau syahrir
bacakan seribu puisi
tentang nafas seribu tahun
di seribu pulau

Karet Bivak, 3 Juni 2017

Chairil Anwar adalah “aku”, Chairil Anwar adalah “Beta”, Chairil Anwar adalah Indonesia yang melawan dengan peluru puisi.

Selamat hari puisi!

Hukunalo, Ambon, 26 Juli 2021

Penulis adalah redaktur pelaksana Maluku Post 

Pos terkait