Hola Emola, Ini “Lonteku”

  • Whatsapp

Catatan Rudi Fofid-Tual

Hola, Emola! Apa kabarmu. Semoga kau kuat setelah tuai badai yang kau tabur sendiri.

Saya sudah dengar lagumu, sudah baca detail lirikmu yang sensasional itu. Saya juga sudah baca banyak sekali kritik dan kecam.

Hal paling berharga adalah permintaan maafmu. Kalau dirimu tidak minta maaf, mungkin kau hanyalah bubur dingin yang tak perlu disentuh. Justru permintaan maaf itu membuktikan bahwa kau lelaki, kau seniman, kau layak ada di permukaan panggung kesenian.

Saya tidak menulis ulang lirik “lonte” milikmu. Saya hanya ingin membawamu pada kenangan tentang “lonteku” karya Iwan Fals.

LONTEKU

Hembusan angin malam waktu itu
Bawa lari ‘ku dalam dekapanmu
Kau usap luka di sekujur tubuh ini
“Sembunyilah sembunyi, ” ucapmu
Nampak jelas rasa takut di wajahmu
Saat petugas datang mencariku

Lonteku, terima kasih
Atas pertolonganmu di malam itu
Lonteku, dekat padaku
Mari kita lanjutkan cerita hari esok

Walau kita berjalan dalam dunia hitam
Benih cinta tak pandang siapa
Meski semua orang singkirkan kita
Genggam tangan erat-erat
Kita melangkah

Selain “Lonteku” oleh Iwan Fals, silakan dengar juga “Kupu-Kupu Malam” oleh Titik Puspa, dan “Cinta Pramuria” oleh Loela Drakel. Jika dirimu rajin, sila lanjut dengar lima lagu oleh Hengky Sumanti Miratoneng alias Hengky MS yakni “Kisah Seorang Pramuria, Untukmu Pramuria, Doa Pramuria, Balada Pramuria,Pramuria tapi Biarawati”

Pertanyaan penting di sini: Mengapa semua lagu yang saya sebut ini tidak mendapat reaksi publik secara negatif, sedangkan lagumu diprotes dan dihujat?

Jawabnya sederhana saja. Iwan Fals, Titiek Puspa, Loela Drakel, dan Hengky MS punya posisi berdiri yang sungguh berbeda dengan dirimu. Dalam lirik-liriknya, mereka berada pada posisi empati pada perempuan di jalur malam.

Saya kutip lirik-lirik beberapa lagu tersebut, dan coba lihat diksi-diksi yang penuh empati.

“Lonteku, terima kasih …
Lonteku, dekat padaku
Mari kita lanjutkan cerita hari esok” (Lonteku, Iwan Fals)

“Dosakah yang dia kerjakan
Sucikah mereka yang datang…
Yang dia tahu, Tuhan penyayang umat-Nya”
(Kupu-Kupu Malam, Titiek Puspa)

Kau pramuria, kau cintaku
Belahan jiwa”
(Cinta Pramuria, Loela Drakel)

Kiranya Tuhan jadi saksi hidupku
Betapa sucinya jalinan cintaku …
Walaupun hinaan ini
Ditujukan pada diriku
Namun ‘ku selalu tersenyum
Karena cintaku suci padanya
(Kisah Seorang Pramuria, Hengky MS)

Lagumu, Emola! Bagai antitesis terhadap lagu-lagu ini. Sebab itu, perasaan publik sungguh terkejut.

Seperti pengakuanmu, kau ingin bercanda, ingin menghibur. Benar, publik Ambon, publik Maluku adalah orang-orang yang suka mop, suka baku sangaja, suka baku terek sampai yang pedis-pedis. Akan tetapi, di Maluku juga, berlaku satu frasa: “Basangaja jang sampe lebe sipat”. Jadi, ternyata memang, segala sesuatu ada batas. Kalau sampai berlebihan, bisa cicilepu.

Emola, dirimu boleh disebut kurang beruntung sebab menggunakan media kesenian yang suci. Sebab itu pula, jangan kaget, jangan marah, dan jangan sakit hati, apalagi dendam kepada orang-orang yang “membantaimu”. Ibarat dirimu sedang menuju bibir jurang, mereka inilah yang sedang berteriak lantang agar dirimu tidak hancur berantakan di dasar jurang.

Ayo Emola! Tulis lagu lagi. Bernyanyi lagi. “Nyanyikan lagu baru bagi Tuhan” dan nyanyikan lagu baru bagi kemakmuran supaya lagumu bisa ikut punya kontribusi melawan kemiskinan.

Saya sudah dengar “lontemu” dan saya sudah ingatkan kembali “lonteku”. Semoga kau mau mencintai “lonteku”, “kupu-kupu malam”, “pramuria belahan jiwa” dengan “cintaku suci padanya”.

Tanah Kei, 19 Maret 2021

Penulis adalah Redaktur Pelaksana Malukupost.com

 

 

 

 

Pos terkait